Mewujudkan Science Fiction

November 16, 2007 at 1:28 pm (BeLaJar)

Jadi tak ada udara di Bulan? Lalu siapa yang akan membuktikannya? Para ilmuwan

Jules Verne, bapak karya fiksi ilmiah, membuat dialog itu sebagai awal dibangunnya kanon raksasa yang menembakkan proyektil berpenumpang menuju Bulan, dalam From the Earth to the Moon (1865).

Imajinasi Verne tidak selalu tepat, bahkan kadang berlawanan dengan kenyataan. Ilmuwan masa kini, misalnya, bisa memberi tahu Verne bahwa para penjelajah di dalam proyektil itu pasti langsung mati karena tak kuat menahan akselerasi penembakan.

Namun, 100 tahun kemudian (lebih empat tahun, tepatnya 20 Juli 1969) khayalan Verne menjadi kenyataan. Teknologi yang dikembangkan National Aeronautics and Space Administration (NASA) membawa Neil Armstrong dan Edwin Aldrin sungguh-sungguh menjejakkan kaki di Bulan. Mereka diangkut dengan roket Apollo 11—bukan proyektil—yang punya mesin pendorong sendiri.

Science fiction memang sering bersimbiosis dengan dunia nyata. Bisa jadi ”the men of science” dunia nyata terilhami sang pengarang atau sebaliknya: perkembangan ilmu pengetahuanlah yang memicu imajinasi tanpa batas.

Star Wars sebagai film science fiction juga banyak berkorelasi dengan dunia nyata. Kalau Anda termasuk Star Wars mania, pastilah tak asing lagi dengan para tokoh dan teknologi film ini: dari Obi Wan Kenobi sampai Luke Skywalker. Dari robot penerjemah seperti C3PO hingga sistem komunikasi tiga dimensi.

Begitu luar biasanya dampak film ini, sampai majalah bergengsi seperti National Geographic dan saluran televisi Discovery Channel membuat bahasan khusus tentang Star Wars.

Selama 28 tahun—sejak film pertama diluncurkan 1977 hingga episode penutupan 2005—semua rekaan George Lucas dalam Star Wars, seperti senjata laser, pertahanan di antariksa, serta sistem robotik dan komunikasi, berkembang paralel dengan teknologi dunia nyata.

Konsep pertahanan udara Amerika Serikat zaman perang dingin yang dijuluki ”Star Wars” sebagai contoh, kini dirancang ulang Pentagon agar bisa memantau peluncuran rudal dari orbit, menembak rudal dengan interceptor, atau menyerang musuh dengan sinar laser. Staf Presiden George W Bush bahkan sudah membahas upaya persenjataan yang lebih agresif di antariksa.

Diperkecil skalanya

Namun, rancangan Pentagon sebenarnya tak pernah semaju versi ”Star Wars” era perang dingin. Cakupannya diperkecil untuk bertahan terhadap ancaman skala kecil, bukan soal kiamat seperti saat berseteru dengan Soviet.

”Pengurangan ini bukan karena kami tidak punya teknologi 20 tahun lalu seperti zaman Star Wars, tetapi lebih karena situasi dunia memang sudah berbeda,” kata pakar kebijakan pertahanan John Pike, Direktur GlobalSecurity.org di MSNBC.com.

NASA juga mengembangkan semacam ion drive, seperti pesawat antariksa Star Wars, yaitu sublight speed travel. Dengan kecepatan sedikit di bawah kecepatan cahaya, suatu ion drive bertenaga matahari sukses digunakan NASA sebagai penggerak wahana peneliti Deep Space 1 akhir 1990-an. Akhir 2004 European Space Agency (ESA) juga memasangnya pada SMART-1 yang ke orbit Bulan.

Bedanya, dunia nyata butuh waktu berbulan-bulan untuk membangun mesin bertenaga fusi ion drive, sementara Anakin Skywalker cuma beberapa hari.

Anggota badan bionik

Seperti halnya Anakin dan Luke Skywalker, di dunia nyata anggota badan yang hilang tak lama lagi bisa diganti dengan tangan atau kaki bionik. Forbes.com mencontohkan Hugh Herr dari MIT Media Laboratory, yang mengembangkan lutut dan tungkai robotik. Perangkat ini memungkinkan pasien berjalan mendekati normal, naik turun tangga, bahkan bersepatu roda.

Peralatan Herr dengan dana 7,2 juta dollar AS dari Departemen Urusan Veteran ini sudah diuji di Brown University. Terima kasih kepada perkembangan teknologi chip yang memungkinkannya membaca sinyal-sinyal saraf dan kemudian mengirim ke jaringan otot yang tersisa.

Salah satu versi komersial lutut bionik bermerek Rheo Knee, dibuat oleh Iceland’s Ossur Therapeutics. Alat bantu ini langsung diminati para pasien yang kehilangan anggota badannya, begitu masuk pasar AS Februari lalu.

Peneliti lain mengembangkan cara mengoneksikan anggota badan bionik langsung di bawah perintah otak. Miguel Nocolelis dari Duke University telah menguji coba tangan robotik pada monyet terlatih lewat perintah chip di otaknya tanpa menggerakkan otot sama sekali.

Pesan hologram

Teknologi lain di Star Wars adalah pengiriman pesan dengan proyektor hologram tiga dimensi. Tak ada e-mail atau telepon seluler, yang saat film pertama dibuat (1977) memang belum ada. Kalaupun sudah, George Lucas mungkin tak memilihnya karena kurang futuristis.

Sebenarnya, displai tiga dimensi bukanlah barang baru di dunia nyata. Film tiga dimensi adalah contoh paling konvensional, yang sering disuguhkan di bioskop dengan kacamata khusus.

Dunia kedokteran juga sudah lama diuntungkan teknologi ini. Ada USG (ultrasonografi) tiga dimensi yang bisa membantu mendeteksi kelainan bawaan pada janin yang masih di rahim ibu. Ada juga CT scan yang bisa menghasilkan gambar hingga 24 potongan tubuh untuk melihat gangguan pada organ tubuh seperti jantung.

CT scan tiga dimensi bahkan sudah dimanfaatkan para arkeolog untuk memotret mumi raja Mesir Tutankhamen, dan kemudian menjadi dasar untuk mewujudkan wajah asli sang Firaun.

Bedanya, seperti diungkapkan Michael Halle dari bagian radiologi di Harvard Medical School, di alam nyata hologram tidak bisa dikirim begitu saja. Soalnya hologram hanya bisa eksis di permukaan datar seperti piring atau layar, padahal planet umumnya berbentuk bulat.

”Belum lagi halangan dari sinar foton di semesta, juga gaya tarik di setiap benda langit, yang bisa membuyarkan kiriman hologram tiga dimensi,” ujar Halle menjelaskan.

Pedang laser

Sama halnya dengan komunikasi hologram, sinar laser yang menjadi senjata andalan para ksatria Jedi banyak berperan dalam dunia nyata. Lagi-lagi bidang kedokteran mendapat manfaat banyak dari sinar laser ini.

Para penderita rabun jauh atau rabun dekat, misalnya, sudah lama bisa menanggalkan kacamata setelah matanya dikoreksi dengan excimer laser. Bedah laser juga membantu membuang tahi lalat, hiperpigmentasi, bahkan tato.

Ilmu pengetahuan memang telah berkembang begitu luar biasa dengan percepatan seperti deret ukur. Maka tidak seperti Jules Verne, George Lucas beruntung bisa menyaksikan imajinasinya menjadi kenyataan.

1 Comment

  1. adinunuy said,

    yang bikin artikel ngerti gk ya

Post a Comment